grobogan

Just another WordPress.com weblog

UANG IBADAH HAJI DI KORUPSI?

Gelar Haji adalah gelar khusus yang diberikan kepada orang – di Indonesia- yang telah menunaikan ibadah haji. Entah sah atau tidak hajinya menurut syariat. Sedangkan untuk sholat, zakat dll, semuanya merupakan ibadah non gelar. Sehingga dengan ibadah yang satu ini, tambahan gelar huruf “H” di depan nama seseorang menunjukkan sesuatu yang berarti bagi pemiliknya. Tapi sekaligus bumerang yang bisa menghancurkan ibadahnya jika tidak siap hatinya.
    Bayangkan, hanya dengan beberapa hari pergi dan beberapa juta uang dibelanjakan, gelar “H” langsung didapat. Bandingkan dengan gelar SH, Dr, Drs, SE dlsb. Setidaknya seseorang harus menghabiskan waktu selama 4 tahun untuk meraihnya, belum lagi biayanya. Sehingga sisi lain ibadah haji inilah yang seringkali menjadi daya tarik, lebih menarik daripada ganjaran yang ditawarkan Allah.
    Gelar “H” dan juga panggilan “Pak Haji” ini juga mengandung konsekwensi. Dulu, karena orang sudah Haji, dirinya merasa tertuntut untuk merubah sifat dan wataknya yang buruk menjadi baik. Sehingga terpeliharalah image gelar “H” sebagai gelar orang yang baik. Jika sudah menyandang gelar “H” pasti dia orang baik, begitu pikiran banyak orang. Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, gelar “H” ini justru dimanipulasi dan dikhianati. Banyak orang rusak dan bejat ingin menyembunyikan jatidirinya dibalik gelar “H” ini. Toh murah. Meskipun ada juga yang benar-benar ingin taubat dan memperbaiki diri.
    Mengingat Haji adalah ibadah, berapapun biaya yang diminta pada jamaah calon haji, tak menjadi masalah. Kalau jual beli kaos oblong, orang tidak malu untuk tawar menawar. Tapi kalau masalah biaya haji, orang segan dan merasa tidak etis kalau harus meneliti dengan detail dan njlimet rincian biaya yang harus dikeluarkan, apalagi menawar. Dipatok berapapun biaya Haji, tetap saja rakyat Indonesia yang konon miskin ini ngantri.

Korupsi Haji
    Kita sudah terlalu sering mendengar berita adanya korupsi di beberapa instansi atau departemen di tanah air ini. Tetapi yang cukup mengagetkan hati kita adalah, departemen yang dihuni oleh orang-orang yang dipercaya mengurusi urusan ibadah, ternyata ikut dalam musabaqoh korupsi ini. Yang sudah diketahui dikorup adalah uang yang dilabel dengan nama Dana Abadi Umat. Mudah-mudahan dana yang lain tidak.
    Akan tetapi dalam urusan korupsi ini, sebenarnya bukan hanya uang yang dikorup oleh Departemen Agama. Bahkan manasiknya pun acapkali dikorup. Dari sejak Miqot (mulai berbaju ihrom) sampai Tahalul (bercukur), ada saja ritual Haji yang dikurangi, dan dengan lantang dikatakan “sah-sah saja”. Sehingga bagi jamaah calon haji yang faham manasik beserta dalilnya, akan menyaksikan pertunjukan ibadah yang tidak akan dijumpai dalam kitab hadits manapun. Sedangkan bagi jamaah yang ilmunya pas-pasan, apalagi hajinya hanya “suargo nunut neroko katut” (Surga ikut, neraka ayo) alias ikut-ikutan saja, manasik yang sudah dikorup ini akan diikuti saja dengan khusyu’  tanpa adanya rasa curiga. Mosok orang-orang Depag bohong, begitu pikirnya.
     Dengan adanya kasus dugaan korupsi di lingkungan Departemen  yang Religius ini seharusnya membangkitkan kewaspadaan setiap jamaah calon haji. Bukan sikap curiga, tapi waspada. Bahwa di dalam menjalani ibadah haji, tidak hanya uang yang dibutuhkan, tetapi juga ilmu. Sehingga cita-cita haji mabrur, bukanlah angan-angan belaka.
    Haji yang mabrur adalah haji yang manasiknya mengikuti manasik yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Dari rukun, syarat, wajib maupun sunnah hajinya. Kemudian seusai ibadah, haji yang mabrur akan mengubah akhlaknya diselaraskan dengan akhlak Rasulullah saw. Semuanya tidak akan tercapai tanpa ilmu yang benar.
    Sudah saatnya jamaah calon haji bersikap kritis dalam hal pembiayaan hajinya. Memang haji bukanlah barang yang diperjualbelikan. Tetapi sarana dan jasa pelaksanaan ibadah haji itu yang harus jelas pembiayaannya. Dalam jual beli, tidak boleh ada unsur  tipuan ataupun spekulasi, semua harus jelas, baik harga maupun barang atau jasa. Sebagaimana dalam sholat harus menutup aurat. Aurat ditutup dengan pakaian. Jual beli pakaian harus jujur dan jelas. Tidak membeli kucing dalam karung. Demikian pula haji.
    Biaya-biaya yang aneh-aneh dan nyleneh dalam haji, sudah saatnya digugat. Ritual haji yang tidak syar’i sudah saatnya diperangi. Rincian biaya yang tidak jelas, sudah saatnya dipertanyakan. Semua hal ini tidak mengurangi keikhlasan Anda dalam berhaji. Bahkan menambah khusyu.

Haji Korupsi
    Jika dahulu image Haji selalu dikaitkan dengan orang yang sholeh, taat beribadah dan tawadhu, image itu sekarang sudah berubah. Tidak sedikit sekarang ini Haji yang tukang Judi, Haji yang rentenir, Haji yang dukun plus tukang santet, bahkan Haji yang korupsi. Pejabat yang sekarang didakwa melakukan tindak kejahatan korupsi di Depag, juga seorang Haji. Maka tidak heran, seringkali gelar haji hanya jadi lelucon saja di kalangan masyarakat.
    Kualitas ke”haji”an seseorang merosot, dikarenakan tindakan orang-orang yang sudah bergelar Haji. Dipuncaki dengan kasus korupsi di Depag. Diiringi dengan terbukanya kasus penggunaan Dana Umat untuk berhaji di kalangan pejabat tinggi yang sudah Haji. Bahkan ada yang sampai lima kali. Dengan alasan, mereka tidak tahu kalau semua pembiayaan Haji mereka didanai dengan dana umat. Padahal sebagai seorang Haji, mereka harusnya tahu, bahwa di akhirat nanti semua manusia akan ditanya “dari mana” asal hartanya dan “ke mana” hartanya dibelanjakan. Dibelanjakan untuk berhaji sudah betul, tetapi pejabat kita lengah untuk menanyakan “dari mana” uang fasilitas yang diterimanya. Jurus ini sebelumnya sudah pernah dipakai oleh kalangan Anggota KPU. Herannya, anggota KPU yang terlibat kasus tindak kejahatan korupsi, sebagiannya juga Haji. Tidak di Depag, tidak di KPU, yang korupsi Haji.
    Memang sudah sepantasnya, kalau Pemimpin negeri ini juga mulai mengeluh, mengapa negeri yang masyarakatnya religius seperti negeri kita ini justru tingkat korupsinya tinggi? Apa yang salah?
    Yang salah adalah pengamalannya. Nilai-nilai kebaikan dan amal-amal sholeh hanya ada di kitab-kitab. Hukum-hukum Allah untuk manusia hanya ada di tulisan. Tidak pernah ada yang mewujudkan isi kitab dan tulisan tersebut. Memang kita masyarakat religius, tetapi religius teoritis. Bukan religius praktis. Tekstual tapi tidak aktual. Singkatnya omong doang. Hukum Allah bicara, pencuri jika masuk nishab, potong tangannya. Koruptor adalah Pencuri. Bahkan lebih kejam dari pencuri biasa. Pencuri biasa masih milih-milih rumah orang kaya untuk dicuri. Koruptor….uang untuk gembel pun ditelan juga. Tapi setelah cuma dikurung berapa bulan atau tahun para Koruptor bisa bebas dan menikmati hasil korupsinya yang sempat dititipkan kesana kemari.
    Ngomong-ngomong, di KUA ada korupsi apa tidak ya? Pernah tanya berapa biaya administrasi nikah yang resmi? Lantas Anda ditarik berapa?  Mudah-mudahan tidak ada kasus korupsi yang menyusul…. Amiin
      Abu Nafar

Iklan

Desember 18, 2008 - Posted by | agama, artikel, berita, indonesia, islam, nusantara, Uncategorized | , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: